Serangan Siber Berbasis AI Meningkat, Ini Kasus Nyatanya!
Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia
bekerja, tetapi juga meningkatkan kompleksitas ancaman keamanan digital.
Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pencarian celah keamanan,
menyusun serangan yang lebih terarah, hingga membuat penipuan digital semakin
meyakinkan.
Peringatan tersebut semakin relevan setelah pemerintah dan
regulator di berbagai negara menyoroti risiko serangan siber berbasis AI. Pada
16 Oktober 2026, negara-negara G7 bahkan menyepakati simulasi bersama untuk
menguji kesiapan menghadapi serangan siber yang memanfaatkan AI, terutama
terhadap sektor keuangan.

Kasus
Peretasan Bank Korea Selatan Memicu Kekhawatiran Penggunaan AI
Pada Oktober 2026, otoritas Korea Selatan mengungkap insiden
peretasan yang melibatkan 16 perusahaan keuangan, dengan sekitar 100.000 kasus
kebocoran data yang dilaporkan. Regulator keuangan setempat menyatakan
penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan metode serangan, termasuk
apakah AI digunakan oleh pelaku.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung sebelumnya juga meminta
penyelidikan terhadap dugaan pemanfaatan AI dalam sejumlah insiden peretasan
bank. Kasus ini menunjukkan pentingnya membedakan fakta kebocoran data dari
dugaan penggunaan teknologi tertentu yang masih diperiksa.
Sumber: Reuters
- Peretasan 16 perusahaan keuangan Korea Selatan.

Google
Temukan Indikasi Eksploitasi Celah Keamanan yang Dikembangkan dengan AI
Ancaman siber berbasis AI juga mendapatkan perhatian dari
Google Threat Intelligence Group. Dalam laporan 11 Mei 2026, Google mengungkap
temuan pelaku ancaman yang diduga menggunakan eksploitasi zero-day yang
dikembangkan dengan bantuan AI. Eksploitasi tersebut direncanakan untuk
serangan berskala luas, tetapi upaya proaktif Google disebut berpotensi
mencegah serangan itu terlaksana.
Temuan ini penting karena memperlihatkan bagaimana AI
berpotensi membantu pengembangan metode serangan yang lebih canggih. Namun,
laporan tersebut tidak berarti seluruh serangan siber saat ini sudah
menggunakan AI.
Sumber: Google
Threat Intelligence Group - Laporan ancaman berbasis AI.

Ancaman
Deepfake dan Penipuan Berbasis AI di Indonesia
Di Indonesia, risiko penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI)
menjadi perhatian karena teknologi deepfake mampu meniru wajah, suara, hingga
ekspresi seseorang secara meyakinkan. Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan
untuk menyebarkan informasi palsu, menyamar sebagai orang lain, dan menjalankan
penipuan digital.
Beberapa bentuk ancaman deepfake yang perlu diwaspadai
meliputi:
1. Penipuan menggunakan suara
tiruan: Pelaku dapat memanfaatkan teknologi kloning suara untuk menyamar
sebagai anggota keluarga, atasan, atau rekan kerja dan meminta transfer uang
secara mendesak.
2. Video palsu yang
menyerupai tokoh asli: Manipulasi wajah dan gerakan bibir dapat digunakan
untuk membuat seseorang seolah-olah menyampaikan pernyataan yang tidak pernah
dibuatnya.
3. Penyalahgunaan identitas
untuk penipuan finansial: Foto, video, atau suara yang dimanipulasi dapat
dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan korban sebelum meminta uang atau
informasi rahasia.
4. Penyebaran informasi dan
berita palsu: Konten audiovisual hasil manipulasi dapat membuat informasi
yang belum terverifikasi terlihat autentik dan berpotensi memengaruhi opini
publik.
5. Penipuan melalui panggilan
video: Pelaku dapat menggunakan manipulasi visual untuk menyamar sebagai
individu tertentu, sehingga proses verifikasi identitas menjadi lebih sulit.
6. Pencurian kredensial dan
data pribadi: Deepfake dapat dikombinasikan dengan rekayasa sosial untuk
meyakinkan korban agar menyerahkan kata sandi, kode OTP, atau informasi
perbankan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dan perusahaan
perlu melakukan verifikasi identitas melalui saluran komunikasi yang berbeda.
Pesan suara, video, atau permintaan transfer uang yang tampak meyakinkan tidak
selalu membuktikan bahwa pengirimnya benar-benar orang yang bersangkutan.
Langkah pencegahan yang dapat diterapkan antara lain:
1. Hubungi kembali pihak
terkait melalui nomor telepon atau kontak resmi yang sudah dikenal.
2. Jangan membagikan kode
OTP, PIN, kata sandi, atau informasi perbankan kepada siapa pun.
3. Periksa sumber asli
video, konteks pernyataan, dan kredibilitas akun yang mengunggahnya.
4. Terapkan prosedur
persetujuan tambahan untuk transaksi bernilai besar di lingkungan
perusahaan.
5. Laporkan dugaan penipuan
melalui kanal resmi platform, bank, atau pihak berwenang.
Sumber: Komdigi
- Upaya membendung penipuan deepfake.

Cara
Menghadapi Ancaman Siber Berbasis AI
Ancaman siber berbasis AI dapat mencakup penipuan yang lebih
meyakinkan, otomatisasi serangan, hingga eksploitasi kelemahan sistem keamanan.
Oleh karena itu, perlindungan digital perlu dilakukan secara berlapis, baik
oleh individu maupun perusahaan.
Langkah perlindungan bagi masyarakat:
1. Aktifkan autentikasi
multifaktor (MFA): Gunakan lapisan verifikasi tambahan untuk melindungi
akun email, media sosial, dan layanan keuangan.
2. Gunakan kata sandi yang
kuat dan unik: Hindari penggunaan kata sandi yang sama pada banyak akun.
Pengelola kata sandi dapat membantu mengelola kredensial secara aman.
3. Perbarui sistem dan
aplikasi: Pembaruan perangkat lunak membantu menutup celah keamanan yang
diketahui dan telah diperbaiki oleh pengembang.
4. Waspadai tautan dan
lampiran mencurigakan: Jangan langsung membuka berkas atau tautan dari
pengirim yang tidak dikenal, meskipun pesan terlihat profesional.
5. Verifikasi permintaan yang
mendesak: Konfirmasikan permintaan transfer uang, perubahan rekening, atau
pengiriman data melalui saluran komunikasi lain.
6. Batasi informasi pribadi
di internet: Informasi yang dipublikasikan secara terbuka dapat
dimanfaatkan untuk menyusun penipuan yang lebih personal.
7. Siapkan pemulihan akun:
Pastikan alamat email pemulihan dan nomor telepon tetap aktif serta simpan kode
pemulihan di tempat yang aman.
Langkah perlindungan bagi perusahaan:
1. Terapkan kontrol akses
berbasis kebutuhan: Batasi akses karyawan terhadap data dan sistem sesuai
tanggung jawab masing-masing.
2. Perkuat pemantauan
keamanan: Pantau aktivitas login yang tidak biasa, percobaan akses
berulang, dan indikasi pencurian kredensial.
3. Lakukan pencadangan data
secara berkala: Simpan cadangan yang terlindungi dan uji proses pemulihan
untuk mengurangi dampak ransomware atau kehilangan data.
4. Latih karyawan menghadapi
rekayasa sosial: Berikan simulasi phishing dan edukasi tentang penipuan
yang menggunakan suara, video, atau pesan buatan AI.
5. Gunakan prosedur
verifikasi transaksi: Terapkan persetujuan berlapis dan konfirmasi
independen untuk transaksi keuangan atau perubahan informasi rekening.
6. Siapkan prosedur respons
insiden: Tentukan langkah untuk mengisolasi sistem terdampak, mengamankan
bukti, memulihkan layanan, dan melaporkan insiden.
7. Evaluasi penggunaan AI di
lingkungan kerja: Batasi izin agen AI, lindungi data sensitif, dan catat
aktivitas sistem otomatis yang memiliki akses ke sumber daya perusahaan.
Pada akhirnya, menghadapi ancaman siber berbasis AI tidak
cukup hanya mengandalkan perangkat keamanan. Kombinasi teknologi perlindungan,
verifikasi identitas, tata kelola akses, dan kesiapan menghadapi insiden
menjadi fondasi penting untuk menjaga keamanan data serta kepercayaan digital.
Cara
Mencegah Serangan Siber Berbasis AI di Indonesia
Kasus peretasan sektor keuangan Korea Selatan, temuan Google
terkait eksploitasi celah keamanan dengan bantuan AI, hingga ancaman penipuan
deepfake menunjukkan bahwa risiko keamanan digital semakin kompleks. Teknologi
AI dapat membantu meningkatkan pertahanan siber, tetapi juga berpotensi
dimanfaatkan untuk menyusun serangan yang lebih terarah dan meyakinkan.
Bagi masyarakat dan perusahaan Indonesia, langkah paling
penting adalah memperkuat perlindungan data, mengaktifkan autentikasi
multifaktor, serta memverifikasi identitas sebelum menindaklanjuti permintaan
informasi sensitif atau transfer uang. Di tengah pesatnya perkembangan AI,
keamanan siber bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan kebutuhan mendasar
untuk melindungi identitas, keuangan, dan kepercayaan digital.
| Baca Juga : AI Menyedot Air
Bersih Secara Masif: Krisis Tersembunyi di Balik Kemajuan Teknologi |
| Baca Juga : Apa Tujuan Awal
AI Diciptakan dan Dampak yang Muncul ? |
Jangan sampe ketinggalan berita terupdate seputar teknologi
yang terpercaya, hanya di terusterangteknologi.com lah
anda mendapatkan berita terbaru seputar perkembangan teknologi terkini dari
seluruh dunia.