Literasi Digital Islami: Membangun Etika Bermedia Sosial Berlandaskan Akhlakul Karimah
Kota Tangerang Selatan - Di tengah masifnya
penetrasi internet di Indonesia, tantangan etika digital tidak lagi hanya
dihadapi oleh remaja atau orang dewasa. Anak-anak usia sekolah dasar kini
berada di garis depan paparan dunia digital. Menyadari urgensi tersebut, MI
Misbahun Nasyiin, Kota Tangerang, berkolaborasi dalam program Pengabdian kepada
Masyarakat (PkM) bertajuk Literasi Digital Islami Berbasis Akhlakul Karimah,
sebuah intervensi edukatif yang dirancang khusus untuk Generasi Alpha.
Program ini menjadi respons konkret atas meningkatnya risiko
cyberbullying, penyebaran hoaks, dan degradasi adab digital di kalangan siswa
Madrasah Ibtidaiyah.
MI Misbahun
Nasyiin sebagai Mitra Strategis Penguatan Etika Digital Anak
MI Misbahun Nasyiin berlokasi di Jl. Raden Saleh No.37,
Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten. Madrasah ini telah meraih Akreditasi
A (Sangat Baik) dari BAN-PDM dan dipimpin oleh Kepala Sekolah, Ibu
Nurrobbiana, S.Pd.I., dengan visi pendidikan global: Where Tomorrow’s
Leaders Come Together.
Sebagai lembaga pendidikan Islam tingkat dasar, MI Misbahun
Nasyiin memegang peran strategis dalam membentuk fondasi karakter anak. Namun,
tantangan era digital menuntut pendekatan pendidikan yang lebih kontekstual,
terutama dalam menjembatani nilai-nilai akhlak Islam dengan realitas dunia
maya.
Penetrasi
Internet Indonesia dan Ancaman Etika Digital bagi Anak Usia MI
Berdasarkan survei APJII tahun 2024, tingkat penetrasi
internet di Indonesia telah mencapai 79,5%. Kelompok usia dominan
pengguna internet saat ini adalah Generasi Z, sementara anak-anak MI termasuk
dalam Generasi Alpha, generasi yang sejak lahir telah terpapar gawai dan
media sosial.
Tanpa pendampingan etika digital yang memadai, anak-anak
belajar perilaku bermedia secara pasif dari konten TikTok, YouTube, dan
Instagram. Akibatnya, norma digital yang mereka serap sering kali tidak sejalan
dengan nilai pendidikan Islam.

Tantangan
Pendidikan Islam dalam Menjawab Masalah Etika Digital Modern
Materi Pendidikan Agama Islam di banyak madrasah masih
berfokus pada etika konvensional, seperti larangan ghibah secara lisan.
Sementara itu, bentuk ghibah digital seperti menyebarkan tangkapan layar
percakapan pribadi, komentar negatif di media sosial, atau pengucilan di grup
daring sering tidak disadari sebagai pelanggaran akhlak.
Penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara ajaran
akhlakul karimah dan praktik digital siswa. Inilah celah yang berpotensi
melahirkan perilaku menyimpang di dunia maya jika tidak segera diintervensi
secara sistematis.
Risiko
Cyberbullying pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah
Data penelitian nasional menunjukkan bahwa 69,64% pelajar
di Indonesia pernah terpapar cyberbullying, baik sebagai korban, pelaku,
maupun saksi. Pada usia MI, dampaknya jauh lebih serius karena berpengaruh
langsung pada kesehatan mental, kepercayaan diri, dan perkembangan sosial anak.
Cyberbullying dalam konteks siswa MI kerap muncul dalam
bentuk:
1. Saling menghina di grup pesan
2. Menyebarkan gosip teman
secara daring
3. Mengolok-olok foto atau video
teman
4. Pengucilan digital
Tanpa edukasi dini berbasis nilai Islam, perilaku ini
berpotensi menjadi pola yang berulang hingga dewasa.
Kerentanan Anak
terhadap Hoaks dan Konten Negatif di Media Sosial
Selain cyberbullying, anak-anak MI juga sangat rentan
terhadap hoaks dan konten negatif. Minimnya kemampuan literasi digital membuat
mereka mudah percaya dan ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar,
bahkan bertentangan dengan nilai syariat.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berkontribusi terhadap degradasi moral kolektif di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Program Literasi Digital Islami Berbasis Akhlakul Karimah sebagai Solusi Nyata
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim pelaksana PkM
merancang Program Edukasi Aktif dan Kreatif: Literasi Digital Islami
Berbasis Akhlakul Karimah. Program ini menyasar siswa MI dengan pendekatan
yang aplikatif, menyenangkan, dan mudah dipahami anak-anak.
Metode
Pembelajaran Aktif dan Kreatif untuk Anak Madrasah
Materi disampaikan melalui metode interaktif seperti
permainan edukatif, diskusi ringan, dan simulasi pertemanan digital. Pendekatan
ini mendorong anak tidak hanya memahami konsep akhlak, tetapi juga mampu
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia maya.
Edukasi
Multimedia Islami untuk Meningkatkan Daya Serap Anak
Program ini memanfaatkan video edukasi Islami yang membahas
adab berteman dan etika digital. Selain sebagai media pembelajaran, video ini
juga menjadi luaran digital yang dapat digunakan kembali oleh sekolah dan TPQ.
Storytelling
Kisah Rasul sebagai Fondasi Akhlak Digital
Kisah teladan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat disampaikan
melalui storytelling yang relevan dengan konteks anak. Cerita-cerita ini
kemudian dikaitkan dengan contoh nyata perilaku digital masa kini, sehingga
anak mampu memahami hubungan antara nilai Islam dan aktivitas online.
Kegiatan
Kebersamaan untuk Menumbuhkan Empati dan Solidaritas
Kegiatan makan bersama setiap hari Jumat menjadi bagian dari strategi membangun empati, kebersamaan, dan rasa saling menghargai antar siswa. Aktivitas sederhana ini terbukti efektif dalam menurunkan perilaku negatif dan memperkuat ikatan sosial.
Metode
Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat
Program dilaksanakan melalui empat tahapan utama:
1. Persiapan, meliputi
koordinasi dengan mitra, survei kebutuhan, pengembangan materi, dan pembagian
tugas tim.
2. Pelaksanaan, berupa
sesi edukasi langsung, pemutaran video, storytelling, permainan edukatif, serta
keterlibatan orang tua.
3. Evaluasi, menggunakan
observasi perilaku dan games interaktif untuk mengukur pemahaman siswa.
4. Pelaporan dan
Keberlanjutan, dengan penyusunan laporan akhir, publikasi media, serta
transfer metode kepada guru agar program terus berlanjut.
Membangun
Generasi Alpha Berakhlak Mulia di Era Digital
Program Literasi Digital Islami di MI Misbahun Nasyiin
menjadi bukti bahwa pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan tantangan zaman
tanpa kehilangan nilai dasarnya. Dengan mengintegrasikan akhlakul karimah ke
dalam praktik digital sehari-hari, anak-anak tidak hanya menjadi pengguna
teknologi, tetapi juga insan beradab di ruang maya.
Langkah ini diharapkan menjadi model bagi madrasah lain
dalam membangun generasi digital yang cerdas, beretika, dan berlandaskan nilai
Islam.
| Baca Juga : Berita
Teknologi Terkini 2025: Inovasi AI Terkini di Indonesia |
| Baca Juga : Blockchain
2026 Terancam Guncang: Regulasi Menguat dan Ancaman Quantum Meningkat |
Jangan sampe ketinggalan berita terbaru seputar teknologi, hanya di terusterangteknologi.com lah anda mendapatkan berita terbaru seputar perkembangan teknologi terkini dari seluruh dunia.